![]() |
| Seorang Juara Tidak Pernah Merasa Jago Eugenia Leonetta, Siswa SMA Negeri 2 Tangsel |
TANGERANG - Selalu
merendah, tidak pernah merasa jago, selalu menerima kritikan, suka bertanya
kekurangan pada orang lain, pantang menyerah, rela berkorban, serta tidak
ambisius sudah melekat pada diri Eugenia Leonetta, siswa SMA Negeri 2 Tangsel,
peraih medali emas dan the best speaker (pembicara terbaik) di ajang “National Schools Debating Championship” di Kota Palu, Sulawesi Tengah, beberapa waktu
lalu.
Sempat drop karena gagal
memenuhi “ekpspetasi” tinggi terhadap dirinya, remaja berkacamata itu
lantas membuktikan bahwa sebuah kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. “Aku memang sempat down ketika tahu tim SMAN 2
Tangsel tidak lolos babak quarterfinal di Binus. Itu karena kita sangat fokus
untuk meraih juara,” kata Leon-panggilan
akrabnya saat berbincang dengan Tangsel Pos, di sekolahnya, Jumat (2/8) lalu.
Putri dari Naryati Tedja
ini melanjutkan, waktu ikut lomba di Binus, Leon Cs berangkat dengan tim yang
bisa dibilang sangat bagus. Tapi kenyataanya, mereka gagal. “Dari situ saya menyadari bahwa gelar juara
bukanlah tujuan utama saat ikut lomba.
Terpenting saat lomba
kita senang, tidak memikirkan target juara, belajar kekurangan dari kegagalan
sebelumnya, serta jangan lupa untuk belajar dan meningkatkan kemampuan diri
sendiri,” pesan remaja yang mendambakan
bisa masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini.
Lantas, bagaimana Leon
bisa meraih sederet prestasi bergengsi seperti sekarang, terutama medali emas
dan the best speaker saat berlaga di Palu, lalu? Kata Leon, semua itu tidak
didapatkan dengan instan. Ia harus belajar maksimal tentunya.
Selain memaksimalkan guru
les pribadinya, ia juga rutin belajar dengan tim sekolahnya maupun kelompok
siswa sekolah lain seluruh Jabodetabek, yang sama-sama aktif ikut lomba debat
nasional tentunya.
Dalam sehari, Leon bahkan
bisa belajar hingga 4-5 jam diluar jam sekolah. Untuk memenuhi keinginanya
menjadi yang terbaik, Leon juga rela mengorbankan waktu untuk keluarga, pulang
pergi naik kereta ke UI Depok hanya untuk belajar kelompok. “Tidak masalah harus berkorban waktu, terpenting
dapat ilmu dan semakin maju. Apalagi bisa belajar dengan teman-teman tim debat
di luar sekolah. Pastinya akan memperkaya wawasan kita kedepanya ,” kata sulung dua bersaudara itu.
Dukungan Sekolah Bikin
Siswa Sekolah Lain Iri
Sepintar apapun Leon saat
ini, dan sebanyak apapun kepingan medali serta piala yang diperolehnya, sama
sekali tidak berarti kalau tidak ada support dari sekolahnya, SMA Negeri 2
Tangsel. Karenanya, dia sangat menyadari dan berterimakasih kepada kepala
sekolah, guru pembinanya, maupun rekan-rekanya di SMA Negeri 2 Tangsel.
“Dukungan sekolah, terutama dari
kepala sekolah dan pembina sangat berarti untuk saya dalam setiap kesempatan
ikut lomba. Terimakasih untuk mereka semua,” tutur remaja yang sangat fasih bahasa Inggris itu.
Menurut Leon, dukungan
sekolahnya itu selalu ditunjukan dengan memberikan dia dispensasi waktu
belajar, saat harus berkonsentrasi ikut lomba misalnya. Namun bukan berarti,
kewajiban Leon untuk mengerjakan tugas sekolah luput juga.
“Dukungan sekolah kalau bisa
dibilang itu yah, bikin teman-teman sekolah lain merasa iri. Maksudnya gini,
mereka suka bilang kok bisa sih Leon ga ikut belajar. Enak yah Leon bisa ijin
terus. Dan blabla. Sekolah memang memberikan kelonggaran bangat untuk
siswa-siswanya agar bisa berprestasi,” tegas Leon.
Leon pun berpesan pada
dirinya sendiri maupun untuk tim debatnya agar tetap merendah, menerima
kritikan orang lain. “Seorang juara
tidak pernah merasa jago. Tetaplah merendah,” tutupnya.

0 komentar:
Post a Comment