![]() |
SERANG, (KB).- Hujan
deras yang melanda Kabupaten Serang dan sekitarnya, sejak Ahad hingga Senin (
24-25/7/2016) dini hari menimbulkan bencana banjir dan longsor di beberapa
wilayah Kabupaten Serang seperti Mancak, Cinangka, Anyer dan Padarincang.
Akibat banjir tersebut,
berdasarkan data sementara Kecamatan Anyer, sebanyak 2.440 rumah yang rusak dan
terendam. Terdiri atas 2.209 unit rumah rusak biasa, 181 unit rumah rusak berat
dan yang hilang diterjang banjir bandang sekitar 50 unit.
“Itu data
sementara sampai dengan pukul 17.00. Kami masih menunggu data susulan. Untuk
korban luka parah di Desa Sindang Karya 1 orang patah kaki dan sudah dibawa ke
RSUD Cilegon. Kemudian di Kampung Sigarubuk Desa Sindang Mandi ada jembatan
putus dan 1 unit mobil terbawa hanyut,” kata Camat Anyer
Khairil Anwar.
Ia menuturkan, beberapa
rumah yang hilang atau terbawa hanyut, warga bisa datang ke kecamatan karena
sudah disiapkan tenda pengungsian oleh BPBD. Bahkan beberapa relawan juga sudah
disiapkan seperti PMR, pramuka, Satgas TTKDH untuk membantu warga yang terkena
korban banjir dan longsor.
“Kami sudah
membuat pos bersama di Kantor Kecamatan Anyer. Kami mengimbau warga yang
terkena musibah agar bersabar dan tetap waspada,” ujar Khairil.
Berdasarkan informasi,
banjir dan longsor terjadi di wilayah Anyer. Dari 10 desa, banjir dan longsor
melanda 8 desa. Seorang korban banjir Eko (30) mengatakan, curah hujan yang
tinggi membuat air sungai naik sekitar pukul 02.00 dini hari.
Lain halnya yang dialami
oleh Arifin (45), warga Kampung Babakan Desa Sindang Mandi RT 1 RW 04 yang
rumah saudaranya hancur diterjang banjir bandang. Ia tak menduga terjadi banjir
besar, karena curah hujan biasa saja dan Sungai Cipaseh tidak terlalu keruh.
“Sekitar pukul
22.00, saya main ke rumah adik yang menjadi korban banjir bandang. Suara air
sungai seperti gemuruh pesawat. Saya kemudian ambil senter dan melihat arus
sungai deras dan besar. Beberapa bronjong yang memuat batu tidak kuat menahan
derasnya air langsung ambrol. Dengan kejadian itu saya berinisiatif langsung telefon
Pak Lurah, agar listrik di kampung saya dimatikan,” ujarnya.
Menurutnya, setelah
dimatikan tidak lama arus sungai meluap dan membawa gelonggongan kayu yang
cukup besar dan menabrak rumah-rumah di sekitarnya. Beruntung tidak ada korban
jiwa, karena beberapa penghuni rumah sudah diberi tahu terlebih dahulu.
“Saya bilang
air sungai meluap, awas jangan di dalam. Semuanya di luar. Benar saja, sekitar
30 menit, kayu-kayu besar menabrak rumah. Ada 9 rumah yang rusak berat dan 3
hancur karena tertabrak kayu yang berasal dari longsoran Gunung Pabeasan.
Ketiga rumah tersebut milik Busro, Ahmad Satib, dan Agus Salim. Tidak sempat
menyelamatkan barang-barang, sisanya tinggal baju yang dipakai oleh mereka,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala
BPBD Banten, Sumawijaya menyatakan, pihaknya mengirimkan sebanyak 200 paket
untuk kebutuhan korban bencana.
“Besarnya paket
tersebut berdasarkan pengajuan, Kab.Serang dan Pandeglang masing-masing 100
paket, ditambah peralatan untuk pasca banjir seperti sapu, sekop, ember dan
lain-lain. Tanggap darurat ini dilakukan setelah kami betul-betul
memperhitungkan dengan aman, dan masyarakat bisa pulang ke rumah dengan aman,
maka kami bisa cabut. Tapi kalau masih banjir dan belum selesai, kami siaga di
Anyer,” ujarnya.

0 komentar:
Post a Comment