![]() |
| Ilustrasi |
PANDEGLANG – Harga sembilan bahan pokok (sembako) di sejumlah
pasar di Kabupaten Pandeglang, semakin tidak terkendali. Pemkab Pandeglang pun
mengaku, sangat kewalahan dalam mengantisipasi persoalan itu, walaupun sudah
melakukan berbagai upaya.
Ketidakstabilan harga
sembako seperti yang terjadi pada beras kualitas sedang atau jenis premium
biasanya maksimal Rp8.500 per kilogram, kini menjadi Rp9.500 per kilogram,
harga daging sapi yang masih di atas Rp110 ribu per kilogram dan harga gas
elpiji ukuran 3 kilogram yang mencapai Rp24 ribu di perkotaan dan Rp27 ribu di
pedesaan seperti di Kecamatan Patia.
“Ya memang kita
sangat kewalahan dalam melakukan penekanan harga, khususnya yang dijual di
pengecer. Sebab, mereka (para pengecer-red) kerap seenaknya menaikkan harga,” ujar Asda Bidang Perekonomian dan Pembangunan
(Ekbang) Iskandar usai rapat inflasi harga sembako di gedung Setda Pemkab
Pandeglang, Jumat (10/6).
Ia menjelaskan, rapat
penekanan harga sembako dihadiri Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi
(PPID) terkait. Di antaranya, Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan
(Diskoperindag), Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak), Dinas Kelautan dan
Perikanan (DKP), Badan Pusat Statistik (BPS), serta perwakilan dari Bulog Divre
Lebak-Pandeglang. “Dalam rapat
tadi, kami merumuskan upaya penekankan harga sembako di pasaran,” kata Iskandar.
Ditemui di tempat yang
sama, Kepala Diskoperindag Kabupaten Pandeglang Olis Solihin menerangkan, upaya
penekanan harga sembako akan dilakukan dengan menggelar operasi pasar secara
terus menerus. “Waktunya
diawali pada 22 Juni nanti, dengan tema pasar murah,” ujarnya.
Berbeda dengan Iskandar,
kata Olis, harga sembako di sejumlah pasar di Kabupaten Pandeglang masih
stabil. “Saya kira harga sembako masih
stabil. Hanya, daging saja yang mahal. Seperti daging sapi yang mencapai Rp110
ribu per kilogram. Saya berharap, Kementerian Pertanian dan Peternakan dapat
memasok daging sapi ke Pandeglang,” katanya.

0 komentar:
Post a Comment