![]() |
| Siswa MAN 3 Mauk Lestarikan Sepakbola Api |
TANGERANG - Dalam
beberapa tahun belakangan ini, sejumlah siswa MAN 3 Mauk, Kabupaten Tangerang,
aktif memainkan sepakbola api sebagai wujud mencintai dan melestarikan kekayaan
budaya Banten.
“Saya tidak tahu siapa yang
pertama-tama menciptakan sepakbola api. Namun yang jelas itu warisan budaya
dari para leluhur di Banten,” ungkap
Muhayar, pelatih sepakbola api dan guru MAN 3, Senin (22/8).
Menurutnya, mengingat
sepakbola api sebagai warisan budaya yang sangat unik, menarik, dan langka,
maka permainan itu perlu ditradisisikan di kalangan generasi muda termasuk di
sekolah-sekolah. “Agar sepakbola
api itu tetap lestari dari zaman ke zaman, kita perlu memperkenalkan dan
mensosialisasikan kepada generasi muda, terlebih lagi kepada para siswa di
sekolah-sekolah,” paparnya.
Di sekolah-sekolah
misalnya, bagaimana sepakbola api itu bisa dijadikan eskstrakurikuler wajib. “Kalau itu diwajibkan, saya yakin sepakbola api itu
bisa bertahan sampai kapan pun,” tuturnya. Tentu
saja sambung Muhayar, hal itu sangat membutuhkan kebijakan dari Pemerintah
Kabupaten (Pemkab) Tangerang. “Kalau sudah
ada kebijakan itu, maka tinggal dieksekusi oleh Dinas Pendidikan,” ujarnya.
MAN 3 Kabupaten Tangerang
dijelaskan Muhayar, memiliki tanggung jawab untuk melestarikan warisan budaya
itu. Salah satu caranya melatih sejumlah siswanya memainkan sepakbola api itu.
“Kami sudah memaikan sepakbola
api, diantaranya saat merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-71 tanggal 16 dan 17 Agustus
2016, beberapa hari lalu. Kami memainkan di halaman sekolah pada malam hari,” ujarnya.
Muhayar mengingatkan
Banten memiliki kesenian debus. Seni itu sudah dikenal luas di nusantara dan
bahkan ke mancanegara. “Kita sebagai
warga Banten harus bangga mendapat warisan seni debus, termasuk sepakbola api,” katanya.
Sepakbola itu diungkapkan
Muhayar, biasa dimainkan oleh lima orang pemain dalam satu tim. Satu kali
permainan biasanya juga 2X30 menit. “Bola yang
dimainkan olahraga ini dari kelapa yang dibakar dan menimbulkan api yang besar,” ungkapnya.
Untuk satu kali permainan
menurut Muhayar, bisa menghabiskan 2-3 butir kelapa. Namun sebelum main, para
pemain melakukan ritual bersama dengan pakar debus di lapangan sesuai syariat
Islam. “Selama pemain memainkan
sepakbola api tidak akan ada yang terluka. Padahal bola dari kelapa itu
panasnya juga. Inilah keistimewaan budaya Banten yang harus kita pelihara
bersama,” paparnya.
Rencananya sepakbola api
itu juga akan dimainkan dalam acara penerimaan mahasiswa baru Sekolah Tinggi
Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara di Jalan Perintis Kemerdekaan,
Cikokol, Kota Tangerang.
“Nanti kita mainkan di STISNU.
Mahasiswa baru bisa memainkan sepakbola api. Jadi nanti mahasiswa bisa melawan
dosenya,” kata Muhayar, yang juga salah
satu dosen STISNU.

0 komentar:
Post a Comment