![]() |
| Ilustrasi |
CILEGON, (KB).- Pihak
Kepolisian Resor (Polres) Cilegon menggelar kegiatan deklarasi penolakan
radikalisme, terorisme, sparatisme, dan ideologi anti pancasila di Aula Gedung
DPRD Kota Cilegon, Rabu (3/8/2016).
Kegiatan tersebut,
dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, mahasiswa,
MUI Kota Cilegon, dan Kesbanglinmas Kota Cilegon.
Kapolres Kota Cilegon,
Raden Romdhon Natakusuma mengatakan, acara tersebut diselenggarakan untuk
menyambut Hari Kemerdekaan ke-71 RI, sekaligus untuk meningkatkan stabilitas
keamanan di wilayah hukum Polres Cilegon. Ia berharap, dengan acara tersebut,
pihaknya dapat menyentuh hingga ke lapisan masyarakat di bawah, untuk
menanamkan jiwa nasionalisme dan rasa kebangsaan.
"Ini juga sebagai
salah satu upaya untuk mencegah konflik seperti yang terjadi di wilayah lain,
kami harapkan agar tidak terjadi di kami (Kota Cilegon). Kami berharap,
masyarakat bersama pemerintah dapat bersama untuk menjaga situasi untuk aman
dan kondusif," katanya saat ditemui seusai acara tersebut.
Menurut Romdhon, hingga
saat ini Kota Cilegon dinilai cukup aman, karena masyarakat juga sadar akan
pentingnya keamanan di wilayahnya. Selain itu, ujar dia, masyarakat Cilegon
cukup berperan aktif, untuk menciptakan situasi lingkungan aman.
"Namun, kerawanan tetap
ada, tapi kami tetap berusaha untuk menanamkan jiwa kebangsaan di tengah
masyarakat. Melalui Polri, Pemerintah, TNI, dan pihak terkait untuk
bersama-sama terjun untuk menciptakan rasa aman di masyarakat," ucapnya.
Sementara itu, Kasat
Intel Polres Cilegon, Awab menuturkan, hingga saat ini di Kota Cilegon belum
pernah terjadi konflik sosial di masyarakat. Hanya saja terdapat kasus
mahasiswi hilang yang diduga ikut organisasi radikal, namun hal tersebut sudah
dapat tertangani oleh unsur kepolisian Cilegon.
"Kemarin itu saja,
yang kasus Qonita (mahasiswa hilang). Namun, Alhamdulillah sudah bisa
dipulangkan dengan selamat dan dikembalikan ke orangtuanya. Dia sempat 4 bulan
menghilang dan sekarang sudah kembali bahkan sudah kuliah lagi," tuturnya.
Ia mengatakan, dengan
kegiatan tersebut, pihaknya ingin mencegah dan mengajak masyarakat untuk tidak
terpancing terhadap konflik yang berbau SARA (suku, agama, ras, dan
antargolongan). "Masyarakat di Kota Cilegon juga cukup antusias dengan
gejala di masyarakat, mereka sangat respons," katanya.

0 komentar:
Post a Comment