Kilas Berita

Refleksi Pertemuan Tokoh Banten

 Masjid Agung Banten
PERBINCANGAN yang ramai dipersoalkan setelah pertemuan para tokoh Banten menjelang Idul Fitri di Istana Nelayan, Tangerang (1 Juli 2016) semakin mengkristal pada dua pertanyaan penting: Gaya kepemimpinan macam apa? Dan apa yang telah mereka perbuat untuk rakyat Banten?

Ada beberapa nama yang dimunculkan, meski tetap mengacu pada dua persoalan di atas. Misalnya, calon pemimpin Banten harus sederhana tapi terbukti telah banyak berbuat dan menginspirasi ribuan rakyat demi perubahan.

Orangnya mesti cinta ilmu dan memiliki pengetahuan luas. Bahkan ada yang mengatakan, di samping berilmu dia pun harus pekerja keras, aktivis sosial, yang telah mengilhami banyak rakyat pada kemajuan dan perubahan Banten.

Ada juga yang mengatakan, figur yang telah banyak mengubah nasib rakyat ke taraf hidup yang makmur dan sejahtera. Tapi bukan kemakmuran yang semu dan tidak berkah.

Banyak sinyalemen masyarakat yang concern pada leadership style. Barangkali lantaran masyarakat semakin menuntut perubahan agar tak berjarak dengan pemimpinnya. Dari hari ke hari masyarakat Banten semakin sibuk mengkritisi calon pemimpinnya. Orang-orang di gardu ronda, warung kopi, pabrik dan perusahaan, para pelajar dan mahasiswa, hingga di kalangan ustad dan santri di pesantren-pesantren, semuanya aktif mengkritisi calon pemimpinnya.

Luar biasa orang Banten ini. Begitu lugas dan transparan mereka membicarakan karakter calon pemimpinnya. Konsekuensinya, dialog-dialog tentang leadership style menjadi topik yang hangat, sehangat pembicaraan yang diutarakan dalam novel Pearasaan Orang Banten. Setiap gaya dan gestur calon pemimpin, baik yang kaku, lelet, nyantai, terbuka, serius, plintat-plintut, hingga ke persoalan pakaian, batik, sepatu hinggahandphone yang dipakai, semuanya dikomentari.

Setiap membandingkan antara calon pemimpin muda maupun pemimpin tua, bagaikan dua sisi mata uang yang berlawanan namun masih dalam satu keping mata uang yang sama. Kedua sisi itu tak terlepas dari persoalan yang dipertanyakan di atas: Gaya kepemimpinan macam apa? Dan apa yang telah mereka perbuat untuk rakyat Banten?

Kritik untuk Karya Sastra
Saya kurang setuju dengan beberapa tokoh yang ditampilkan dalam novel Bung Hafis Azhari, khususnya pada bagian yang agak mencolok mengkritisi politisi tua. Menurut filosof dan pengamat kepemimpinan abad ini, Stephen Covey, dari kedua sisi mata uang itu selayaknya kita mengamati apa yang telah diperbuat oleh sang pemimpin di masa lalunya, hingga mengilhami ribuan rakyat yang bergerak cepat mengeksplorasi perubahan dan kemajuan Banten.

Bagi Covey, statemen tentang gaya kepemimpinan berbeda dengan jasa-jasa yang telah diperbuat pemimpin untuk kemajuan rakyatnya (what a person does?). Memang ada calon pemimpin muda yang kelihatan kalem, rileks dan nyantai, tapi styling macam itu bisa dibuat, dan bisa dikemas sedemikian rupa. Tapi apa yang telah dia perbuat di masalalunya? Jangan-jangan dia cuma pesanan babeh untuk mengadakan tambal sulam, kelihatan merakyat dan penuh empati, tapi di belakang layar dia menyesal dan menangis sesenggukan di pangkuan maminya.

Artinya, konsep kepemimpinan tentang what a person is memang merupakan refleksi dari apa yang ada dalam pikiran dan perasaan si kandidat, yang membentuk suatu pola dan pondasi. Apakah pondasinya kuat dan kokoh sehingga bisa membentuk bangunan tinggi yang menjulang ke angkasa? Ataukah pondasinya keropos, dangkal, dan terbuat dari bahan-bahan yang mudah rapuh sehingga mudah dihempas oleh angin dan gelombang, bahkan oleh sedikit guncangan gempa?

Inilah yang saya maksud tentang DNA kelas kampung, menyangkut tipikal karakter yang instan, cengeng, manja, yang memang dari dulunya tidak mengalami cetak biru untuk dibentuk menjadi calon pemimpin yang berkarakter kuat. Bagaimana mungkin dia akan kokoh dan sabar menghadapi guncangan badai prahara, dilecehkan, dicaci-maki, diserang dengan beragam black campaign dan rupa-rupa isu dan gosip dari sikap temperamental masyarakat kita yang terungkap jelas dalam buku sastra Perasaan Orang Banten itu?

Karakter dalam Sastra Kebantenan
Apa yang dikehendaki dari penulis karya sastra, tak lain adalah upaya berkreasi dan menulis untuk keabadian. Ia bersifat langgeng dan kokoh, karena ia terrefleksi dari sebuah karakter. Bagaikan akar dari sebuah pohon yang menancap di kedalaman tanah. Ia tak dapat diciptakan secara instan dan dadakan, apalagi dengan memoles seseorang untuk menjadi pemimpin bagi jutaan penduduk Banten yang kritis dan cerdas-cerdas.

Karakter macam ini tak dapat diciptakan, tak mungkin sanggup Anda beli. Meskipun dengan membayar mahal para pengamat politik yang memiliki lembaga polling atau pakar komunikasi yang dapat melatih cara berbicara, cuap-cuap menampilkan diri di hadapan publik. Karena Anda cuma membangun sebuah akting dalam drama, yang dapat pula disebut reputasi pencitraan.

Ketahuilah bahwa reputasi pencitraan sangat bertolak-belakang dengan pembentukan karakter. Reputasi pencitraan hanya mencerminkan apa yang nampak dalam kasatmata, wadak, konkrit dan maujud. Karenanya gampang disetting dan dikemas dengan serapi mungkin. Di dalam Alquran dinyatakan bahwa orang-orang mukmin tak mau tertipu oleh pandangan luar dari jasmani manusia, tetapi melihat apa yang ada dalam qolbu. Kecuali jika Anda tidak beriman, atau keimanan yang tersesat, yang dicampur-baurkan dengan syirik, takhayul dan khurafat.

Reputasi pencitraan dalam kodrat kaum politisi, layaknya janji-janji kampanye yang diciptakan untuk menghibur rakyat. Bisa saja sebagian benar, tapi dalam sejarahanya, para politisi memang pintar mengemas retorika, hingga dari kebanyakan ucapan itu bukan saja benar, tapi dibenar-benarkan.

Ok, kita teruskan kepada dimensi yang lebih tinggi dari pembicaraan mengenai kandidat pemimpin Banten. Kita coba mengutip ucapan wakil presiden Jusuf Kalla selaku politisi yang sepuh di republik ini. Bahwa untuk memimpin rakyat Banten yang plural dan multikompleks, sebenarnya sikap jujur dan amanah saja belum cukup. Jika mengandalkan kejujuran saja masih belum bisa untuk memajukan Banten, apalagi sampai memecahkan masalah-masalah rumit dan super kompleks. Terkait dengan hal ini selayaknya kita patut mengukur track record dari apa yang telah dia perbuat selama ini. Karena bagaimanapun konsep what a person does mencerminkan kedalaman dan kompetensi calon pemimpin, serta kematangan dan kedewasaannya dalam karir politik dan kepemimpinan.

Orang-orang seperti Jusuf Kalla, Jokowi hingga Dahlan Iskan dengan karirnya yang cemerlang di dunia jurnalistik dan kewartawanan, adalah tipikal pemimpin yang menghendaki kemandirian, kejujuran, dan kebebasan. Mereka memiliki kepekaan, kepedulian dan kecepatan berpikir dan mengambil keputusan. Tentu saja berbeda dengan kalangan politisi yang memble, plintat plintut, asal nerimo, sibuk meniti karir dalam lingkungan birokratis. Juga terlampau hati-hati dalam menyampaikan statemen hingga cenderung pelo dan cadel. Tipikal kebanyakan birokrat di Banten sulit dipungkiri menurut banyak analis dan sastrawan cenderung loyal menjilat atasan, hingga selalu merasa kekurangan walau hartanya melimpah. Bahkan selalu merasa di bawah (mental inlander), walau kedudukannya sudah cukup tinggi.

Apapun yang terjadi pada kepemimpinan Banten, satu hal yang tak bisa dihindari bahwa fenomena dan realitas kehidupan kita telah diungkap secara gamlang oleh para penulis, jurnalis maupun sastrawan Banten. Setiap orang Banten dapat belajar dan membaca diri, bahwa kini segala sesuatunya telah berubah. Dan Banten menghendaki pemimpin yang cerdas, kreatif, jujur, responsif (bukan reaktif), dan berpihak pada kepentingan rakyat. Hal ini tidak mudah, apalagi jika Anda selama ini dibentuk menjadi burung merpati dan bukan burung rajawali.

Tetapi saya tetap ingin mengatakan bahwa perubahan yang terjadi di seluruh dunia adalah keniscayaan sejarah, dan masyarakat Banten tak mungkin menghindar dari kodrat sejarah tersebut. Marilah kita bersama-sama perbaiki Banten sesuai dengan potensi yang kita miliki, dan beradaptasilah dengan realitas perubahan yang merupakan anugerah Allah ini.

Oleh : Indah Noviariesta


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Post a Comment

Item Reviewed: Refleksi Pertemuan Tokoh Banten Rating: 5 Reviewed By: Unknown