![]() |
| Ketika Penulis Bermain Teater |
TANGERANG – Sejumlah penulis yang tergabung dalam Komunitas Penulis
Nyi Mas Melati tidak hanya pandai menulis berbagai bentuk tulisan, namun mereka
juga pandai bermain teater. Kemampuan itu dibuktikan mereka dengan mementaskan
puisi bertajuk “Negeri yang
Dikuburkan” karya Budi Sabarudin, di Gedung
Kesenian, Perumahan Moderland, Kota Tangerang, Kamis (28/4) malam.
Pertunjukan puisi itu
sebagai bagian dari kegiatan besar bertajuk Tafakur Sastra 2 yang digagas
komunitas tersebut. Tafakur Sastra kali kedua ini adalah agenda kebudayaan enam
bulanan.Puisi Negeri yang Dikuburkan mengisahkan tentang berbagai persoalan dan
peristiwa yang menimpa negeri ini. Puisi itu ditulis Budi Sabarudin dengan
gabungan bahasa puitis dan simbolis.
Pertunjukan puisi ini
digarap sutradara Rizki Acong dengan berbagai pendekatan, diantaranya pendekatan
simbolis atau metaforis, surealis serta dibalut dengan pendekatan tradisi
agraris.Tokoh pembaca puisi dalam pertunjukan ini dipercayakan kepada Fiki
Fauzi. Fiki yang juga dikenal sebagai penyair dari Teluknaga, kabupaten
Tangerang ini, bermain memukau dan kharismatik.
Demikian juga dengan
pemain-pemain lainnya yang bertugas sebagai koor dan Suci sebagai penembang
lagu “Padamu Negeri”. Mereka bermain dengan semangat dan penuh
integritas.Tak hanya itu, D Pebrian dan Haryanto sebagai penata musik, mampu menghadirkan
musik yang sesuai dengan ruh pertunjukan. Pebrian dan Haryanto mengisi
pertunjukan dengan musik-musik efek yang membuat pertunjukan menjadi lebih
seru.
Rizki Acong mengatakan
pertunjukan digarap tidak kurang dari dua minggu. Namun demikian para pemain
bermain di atas pentas secara sungguh-sungguh. Mereka juga bermain nyaman dan
lepas.“Pertunjukan puisi ini menjadi
semakin bagus karena dikonsep Kang Budi Sabarudin, sedangkan konsultan
pertunjukannya Kang Edy Wahyu. Saya hanya meneruskan dan menerjemahkan konsep
itu,” paparnya.
Edy Wahyu yang juga
Pembina Komunitas Penulis Nyi Mas Melati, mengatakan pertunjukan puisi yang
digarap komunitas ini tergolong baru. “Saya belum
pernah melihat puisi digarap seperti ini. Ini memang sudah menjadi bentuk
teater,” ungkap Edy.Halimah, salah satu
anggota komunitas paling senior, mengaku bersyukur pertunjukan ini ditonton
banyak orang.
“Saya melihat
para penonton serius menyaksikan pertunjukan puisi,” katanya.Menurut Halimah acara Tafakur Sastra 2
dihadiri musisi balada asal Bandung ferry Curtis dan satrawan lintas negara
Rois Rinaldi. “Tafakur Sastra
3 akan kami gelar bulan Desember mendatang. Semoga sukses seperti Tafakur
Sastra 2,” ungkapnya.
Sumber: Klik di sini!

0 komentar:
Post a Comment