![]() |
| Panglima TNI Beri Kuliah Umum di UPH |
TANGERANG – Hari kedua Universitas Pelita Harapan (UPH)
Festival 23 diisi dengan kuliah umum Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot
Nurmantyo. Acara ini dilaksanakan di kampus UPH Lippo Karawaci, Kabupaten
Tangerang, Jumat pagi 19 Agustus 2016.
Di hadapan sekitar 5.000
peserta yang terdiri dari 3.637 mahasiswa baru, 800 staf dan dosen, 1.000 siswa
UPH College dan tamu undangan, Jenderal
TNI Gatot Nurmantyo menjelaskan mengenai acaman yang dihadapi negara Indonesia
sebagai penghasil energi yang cukup besar. Ia
memulai ceramahnya dengan fakta dari UNESCO dan teori Malthus tentang
pertumbuhan penduduk dan ketersediaan sumber daya energi yang ada.
“Melihat fakta bahwa sebanyak
kurang lebih 41.095 anak meninggal setiap hari dan 15 juta anak meninggal
setiap tahun di seluruh dunia, karena kemiskinan, kelaparan, dan kesehatan yang
buruk. Saya yakin bahwa pertumbuhan penduduk yang terlalu besar akan berdampak
pada sumber energi yang tersedia dan saya rasa teori Maltus akan hal ini sangat
tepat, ” papar Panglima TNI Jenderal
Gatot Nurmantyo.
Ia menjelaskan data
statistik tentang pertumbuhan penduduk dan wilayah konflik diseluruh dunia.
Salah satu penyebab konflik terbesar adalah sumber daya energi, dan faktanya
memang sebagian negara konflik adalah negara-negara penghasil minyak terbesar
di dunia.
“Puncaknya diprediksi akan
terjadi pada tahun 2043. Dimana akan terjadi krisis pangan, air, dan sumber
energi lainnya di seluruh dunia. Negara-negara yang berada di wilayah ekuator
yang memiliki sumber energi berlimpah termasuk Indonesia akan mendapat dampak
berupa ancaman konflik,” ungkap
Panglima TNI.
Mahasiswa baru yang
menjadi peserta dalam seminar ini juga terlihat sangat antusias yang ditandai
dengan banyaknya partisipan yang ingin menjawab pertanyaan dari Jenderal Gatot
Nurmantyo mengenai solusi dari konflik yang mungkin akan terjadi di Indonesia
akibat krisis energi.
Panglima TNI kemudian
meringkas semua jawaban dari para peserta dengan menjelaskan solusi yang paling
tepat dalam menangani konflik yang akan terjadi, yaitu dari segi geografis dan
demografis.
“Dari segi geografis, Indonesia
harus menjadi negara agraris, maritim, dan industri agar dapat mengatasi
konflik dan krisis sumber daya yang ada. Sedangkan dari segi demografis,
Indonesia harus tetap menjaga kearifan lokal dengan revolusi mental dan
berdasar pada Pancasila. Kita harus bersama membangun Indonesia menjadi negara
yang agraris, maritim, dan industri dengan pengelolaan dari rakyat dan untuk
rakyat,” tegas Jenderal Gatot
Nurmantyo.
Sebagai inti dari
keseluruhan sesinya, ia mengingatkan kembali kepada mahasiswa tentang tugas
utama mereka datang ke universitas, terutama kesadaran bahwa pemuda termasuk
mahasiswa, merupakan motor untuk
kegerakkan dan mencapai bangsa yang aman.
Jenderal Gatot juga menambahkian
bahwa mahasiswa merupakan pelajar dengan strata paling tinggi, oleh sebab itu
setiap mahasiswa harus tetap mengingat tujuan utama datang ke tempat ini, yaitu
untuk belajar dan meraih mimpi yang besar.
“Raihlah mimpi dan cita-citamu.
Delapan hal yang harus kalian ingat dan terus lakukan setiap harinya, yaitu
berdoa, bermimpi yang besar, fokus selalu pada mimpi dan target, optimis,
action atau bertindak, fleksibel baik dalam bergaul maupun dalam mencari ilmu
pengetahuan, melakukan segala hal dengan hati, dan selalu tetap belajar.
Mahasiswa adalah agen perubahan, jadilah pemersatu bangsa,” pesan Jenderal Gatot.
Menutup kuliah umum
founder UPH, James T Riady menyampaikan terima kasih kepada Jenderal Gatot Nurmantyo dan seluruh anggota
TNI yang telah memberikan nilai-nilai positif bagi para mahasiswa baru UPH.
Selain itu ia juga menyampaikan harapannya kepada mahasiswa baru untuk
mengembangkan talenta yang dimiliki dan memenuhi panggilan mereka untuk menjadi
berkat bagi bangsa.

0 komentar:
Post a Comment